Jumat, 07 Agustus 2015

Yang Jauh Lebih Iya



KEGIATAN yang paling sering Biru lakukan sejak kelas IX: main basket dan latihan band di sekolah. Bahkan menjelang ujian nasional beberapa waktu lalu, dia tak mengurangi dua kegiatan itu, apalagi setelah ujian. Ketika ibunya “protes”, dia menjawab, “Basket untuk kesehatan, latihan band untuk pentas perpisahan.” Karena untuk perpisahan, makin dekat hari-H, kian sering saja. Kadang sampai sore, sampai malam juga. 
Aku belum pernah nonton Biru main basket di lapangan, belum pernah pula menyaksikan dia ngeband, pun saat latihan. Hanya sesekali melihat dia nggenjreng gitar atau memainkan bola basket di dalam dan di depan rumah. Karena itulah, saat bersama Entik dan Gigih menghadiri undangan pengumuman hasil ujian nasional sekaligus akhirussanah di MTs Negeri 1 Semarang, 10 Juni 2015, yang membuatku deg-degan justru menunggu pementasan Biru dan kawan-kawan. Bukan perkara kelulusan, NEM, atau bakal (bisa) melanjutkan ke sekolah mana dia nanti.
Tak satu pun mata acara menggetarkanku, dari sambutan berbagai pihak hingga pengumuman 100 persen lulus berikut penghargaan bagi murid yang masuk 10 besar NEM tertinggi (berseling pementasan tari, nyanyi, dan pencak-silat). Getaran baru kurasakan ketika Biru naik pentas. Dari kursi bawah panggung, si tengah yang kini memang lebih tinggi dariku itu tampak kian menjulang. Sebuah suara menonjok dari dalam, “Anakmu sudah gede, Dul!”
Maka melihat dia mondar-mandir di atas panggung, mengambil dan menyandang gitar, berbicara dengan teman-teman segrupnya, sudah membuatku merasa “gimanaaaaa gitu”. Apalagi saat drummer memberikan aba-aba dan mereka mulai bermain, wah, getaran makin kuat menjalar. Yang tak kusangka, gaya Biru memegang dan menggenjreng gitar yang jauh lebih santai ketimbang “gitaris-gitaris” lain di panggung itu, seperti profesional saja dia, membuatku tergerus rasa haru. 
“Mas Biru nggaya ya, Dik?” kata Entik. 
Gigih tak menyahut. Matanya lekat ke atas panggung, ke tangan kakaknya yang sedang main gitar. Maklum, sesama “gitaris” harus saling mencermati.
“Penampilan Mas Biru bagus kan?” tanyaku.
“Lumayan sih…” jawab Gigih, nggaya juga.
Menjelang akhir acara, Biru naik panggung lagi bersama Pak Agus, guru keseniannya yang pegang kibor. Biru main bas sembari duduk dengan mata dan hidung merah karena menangis, bahkan masih menahan isak, akibat acara “berterimakasih pada orang tua, terutama ibu” –seperti akhirussanah saat dia lulus SD dulu. Saat sedih, saat menangis, dia tetap pentas, menunaikan kewajiban sebagai pemain bas untuk lagu “Sayonara”, itu keren! Itu membuatku sekali lagi tergerus rasa haru.
Sepanjang lagu yang terus berulang sampai 400-an murid usai menyalami seluruh guru, kusaksikan Biru dalam bungkam dengan mata tua yang berkaca dan meretak perlahan. Aku bangga, iya. Sayang, jauh lebih iya –walau kian ke sini tak lagi sering tampak olehnya.

Tuesday, December 30, 2014

Pesan Pendek Kenangan Panjang

KARENA kuliah, karena sudah memasuki usia dewasa, Tia seolah-olah tak lagi menjadi “beban pikiran” bagi kami. Apa pun yang dia (hendak) lakukan berkaitan dengan proses belajarnya sebagai mahasiswi fotografi ISI Surakarta, sepanjang kami yakini jujur dan berada di garis lurus, kami angguki saja. Hanya ketika dia meminta tambahan dana, naaaa…. tak selalu serta-merta kami bisa mengangguk segera.
Rumah tanpa kehadiran Tia juga seolah-olah baik-baik saja, tak kurang suatu apa. Maklum, Biru yang remaja sedang hobi gerudak-geruduk dengan teman segeng, Gigih yang tak kalah pintar bergaul pun main ke teman di gang sini dan sana, sedangkan aku dan Entik “sibuk” berjibaku day by day. Meski begitu, uniknya, Tia bisa tiba-tiba hadir tanpa harus pulang. 
Ketika Entik bikin kering tempe, misalnya, Biru yang mencium aroma manis-manis pedas segera ke dapur dan bertanya, “Mbak Tia mau pulang to, Buk?” Begitupun ketika Entik bikin rendang, di samping senang karena ada lauk enak, Gigih biasanya bersorak, “Horeee… Mbak Tia pulang! Aku bisa pinjem laptopnya untuk nonton film!”
Kenapa begitu? Ya, sebab dua masakan itulah biasanya yang Entik bawakan sebagai bekal setiap Tia balik ke Solo setelah satu dua hari di rumah.  Masakan yang sangat awet dan tentu saja cocok untuk anak kos. Tak jarang, setiap hendak pulang, Tia sudah request masakan pada ibunya via SMS. Pernah, si ibu sudah berkeringat masak, eh, dia batal pulang dan kirim SMS: “Paketin dong…”  Entik pun biasanya membalas, “Enak aja, nggak pulang yang nggak dapet rendang.” 
BERKAIT dengan “tradisi” SMS ini, ada cerita tentang rasa, terutama rasaku sebagai orang tua, sebagai bapak. Aku dan Tia “berteman” di facebook tapi sangat jarang saling komentar pada status atau unggahan foto masing-masing. Karena itu, persinggungan jarak jauh hanya kami lakukan via SMS yang kemudian menjadi semacam hiburan pelepas lelah atau pereda kehawatiran dan gelisah.
Tanggal 30 Desember tahun lalu, misalnya, menjelang petang aku terima SMS dari Tia: 5kali ke sekaten, kangen bapak. Aku kaget karena mendapat ungkapan rindu yang ujug-ujug dan bingung karena tidak tahu kaitan antara Sekaten di Solo dengan hubungan kami sebagai bapak-anak. Aku pun bertanya: Lhah, kok bisa? Dia menjawab: Keinget dulu ke pasar malem sama bapak… Bercanda aku membalas: Emang pernah? Ha3. Ah, kenangan yang begitu panjang bisa tersampaikan dalam sebuah pesan pendek.

Meski aku “tak peduli” nilai alias yang penting belajar dengan bener sepanjang masa kuliah, gembira juga ketika Tia mengabarkan bahwa IP-nya tinggi dan berpeluang mendapat beasiswa. Kegembiraan bertambah saat dia berkabar via SMS harus buka rekening Bank Jateng untuk menerima pencairan bertahap beasiswa itu.
Kali lain, 6 Februari 2014, Tia berkabar tentang salah satu foto karyanya yang turut dalam pameran, terpilih dan terpajang di ruang Dekanat. Buru-buru aku menyahut: Wow! Surprise! Selamat! Dipajang di dekanat, gak cm di wallpaper laptop bapak. Dibeli brpkah? Ha3. Selamat again… Begitupun 10 November 2014, dia mengabarkan kegembiraan: fotoku “muka dua” keseleksi buat pameran kongres kebudayaan jawa, 500 peserta.
Tanggal 16 April 2014 sore, aku yang lebih dulu kirim SMS: Krn hardisk yg rusak gak bisa diperbaiki, bpk ngedit ulang naskah blog. Hari ini sampai pada momen ultah ke-17 berhadiah Sherina itu… Berhenti. Rasanya gimana gitu. Hampir dua jam kemudian, baru Tia membalas: Aku juga. Setiap baca blog bapak selalu rasanya gimanaaa gitu.
 
Seperti memanfaatkan gelombang yang sedang sama, aku kirim SMS lagi: Jadi orang baik di mata Tuhan aja yuk… Dia menjawab: Yuk yuk ^^. Kusambung dengan pesan: jaga diri, bawa diri… Muuuacchh… Tia menjawab dengan ungkapan Mulan pada sang ayah: I love you, baba… Dalam keharuan dengan mata mbrambang, aku membalas: love u 2.
MUKADUA
PAS aku ulang tahun, 12 Desember lalu, Tia mengucapkan selamat juga via SMS:  Selamat ulang taun bapak… Selalu sehat, selalu bahagia… Maaf gak bisa kado apa2. Hehe. I love you. Kubalas:  Jane ngado foto karya terbaik tahun ini. Ha3. Amin Allahumma aaamiiin. Tengkiu & luv u 2. Eh, dia berani berjanji atau tepatnya bertekad: Hehe, nanti pas tutup tahun
Tanggal 21 Desember, usai baca artikel tentang rumah fotografer muda di halaman “Aku & Rumahku” Kompas edisi Minggu, terbetik sebuah keinginan dan aku sampaikan via SMS ke Tia: Kok bpk pengin kau ambil S2 di Singapura ya, Nduk… Tak tahu aku bagaimana perasaannya saat membaca SMS itu tapi dia menjawab: Itu cita2ku sejak SMA, pak
Aku segera menyambung: Dulu kan mau kuliah di sana. Kini S1 di ISI, S2 di Nanyang. Balik2 dah tuop itu. Coba kejar, Nduk… Dia menjawab singkat dan tepat: Insya Allah… Ya, jika dan hanya jika Tuhan menghendaki. Dan semogalah demikian yang terjadi.
Sembari berproses untuk mencapai cita-cita bersama, kurasa kami akan terus berbalas pesan, senantiasa saling hadir walau berjauhan. Jarak dan kesibukan tak boleh memadamkan kasih sayang: api yang menerangi, api yang menghangatkan.

Thursday, December 25, 2014

Rapot yang Terus Terbuka

"EH, Pak, ada kejutan ini. Biru ranking 2 sekelas. Bu Umi, wali kelasnya, nggak nyangka. ‘Saya sudah nyaris angkat tangan menyuruh Bilal belajar, Bu. Eh, sekarang ranking 2. Kok bisa ya? Bilal pasti juga nggak nyangka ini, Bu.’ Begitu katanya. Waktu Ibuk mohon maklum, ‘Bilal banyak kegiatan, ya pramuka, ya basket, ya nge-band…’ Bu Ummi malah bilang, ‘Saya tahu, Bu, wong Bilal itu kos di sekolahan.’ “
Entik menyampaikan kejutan itu saat kami sampai di SD Alam Ar-Ridho, Sabtu 20 Desember sekitar pukul 11.30. Aku tertawa, mengira dia bercanda, dan meminta rapot Biru sebagai teman menunggu di saung, sementara dia menyelesaikan urusan rapot Gigih dengan guru kelas IV-C. Kubuka rapot itu. Ternyata benar, ranking 2 dari 37 murid sekelas. Waha, kejutan tenan wong sepanjang kelas VII-VIII, masuk 10 besar pun tak pernah si Biru itu.
“Nanti kita bilang pada Biru, ‘Lihat rapotmu jadi mules, Mas!’ Dia pasti mengira nilainya jeblok-blok!” kataku daam perjalanan pulang.
Dan memang itulah yang kemudian kukatakan begitu kami sampai di rumah. Biru yang sedang ngenet bertanya datar saja, “Lha emang kenapa kok mules?” 
“Kamu ranking 2, Mas…” kata Entik sambil menyerahkan rapot itu.
“Hah? Yang bener?”
Dia buka rapot, dia lihat, dia teriak dengan suara paraunya. “Waaaaa…. Akhirnya! Eh, kok bisa ya?”
“Wah, bener kata Bu Ummi pada Ibuk tadi, kamu pasti juga nggak nyangka.”
“Kok kamu bisa ranking 2 sih, Mas? Aneh…” komentar Gigih.
“Pesan Bu Ummi, pertahankan atau bagus lagi, tingkatkan…” sambung Entik.
Segera aku ulurkan tangan, “Selamat ya, Mas!” 
Biru menyambut dan mencium takzim punggung tanganku. Setelah itu, kembali dia teriak-teriak, heran tapi senang. Dan sebagaimana galibnya, buru-buru dia update status, mengabarkan kegembiraan ke seantero dunia.
“Wah, Buk, teman-temanku juga pada nggak percaya!” katanya seraya membacakan beberapa komentar pada status itu.
BIASANYA, tak ada kehebohan saat menerima rapot. Selain karena kami memang bukan “pemuja angka”, juga karena nilai akademik Biru biasa-biasa saja. Tak tinggi, tak pula rendah. Biasanya juga, Biru segera menutup dan menyimpan atau mengembalikan rapot itu ke sekolah setelah kutandatangani. Kali ini beda, amat menggelikan. Ketika Biru dolan, aku melihat rapot itu tergeletak di lantai kamar. Tergeletak dalam keadaan terbuka!
Pasti. Pasti dia pandangi terus ranking 2 itu selama dalam kamar. Bahkan, ketika hendak main, menutup rapot itu pun dia “tak tega”. Saat dia pulang sore-sore, Entik mengingatkan, “Rapotmu mbok ditutup, Mas…”
“Emang kenapa to?”
Keinjek Rooney atau kena tetesan air berubah jadi ranking 22 embuh lho!”
Biru masuk kamar, menutup pintu, dan… aku kok yakin dia pandangi lagi rapot itu sebelum akhirnya “rela” untuk menyimpan.

Wednesday, December 24, 2014

Hape Masalah, Seragam Juga Masalah


URUSAN rapot anak-anak semester ini aku serahkan penuh pada Entik. Sabtu 20 Desember itu aku cuma mengantar sampai di sekolah. Dia yang ketemu dan berbincang dengan wali kelas. Tujuan pertama, MTs Negeri 1, sekolah Biru. Undangan pukul 09.00 tapi karena urusan “teknis kerumahtanggaan”, kami baru bisa meluncur dari rumah nyaris pukul 10.00. Hanya 5-7 menit kami sampai di sekolah yang banjir jika hujan deras itu.
“Biru kelas sembilan apa ya, Pak? F atau apa ya?” tanya Entik.
“Kayaknya iya, F…” jawabku, ingat-ingat lupa. Begini ini akibat hubungan “tak akrab” antara sekolah dan orang tua. 
Entik mendekati ibu-ibu guru yang berderet di depan aula seperti penerima tamu. Di tiap meja terdapat lembar absensi dan nama kelas: IX-E, IX-F, IX-G, dan IX-H. 
“Maaf, Bu, mau tanya. Kelas Bilal itu…”
“Bilal Semangat Istiqlal? Kelas IX-B, Bu. Sosialisasi ujian nasional di aula untuk orang tua murid kelas IX-A, B, C, dan D sudah selesai. Sekarang giliran kelas IX-E, F, G, dan H. Jadi, Ibu silakan langsung ke ruang di samping kanan aula.
Artinya, kami memang terlambat dan segera menuju ke Kelas IX-B. Entik masuk, aku menunggu di luar. Tak jenak duduk, aku jalan-jalan, sekalian mengintip aula barangkali sosialisasi untuk kelas lain sudah dimulai. Ternyata, belum. Saat aku melongok ke dalam, seraut wajah tersenyum cerah. “Pak, siniiiii…!” katanya.
Dia Mas Adlan Heriyudi, kakak kelas semasa kuliah, senior semasa sama-sama jadi wartawan. Anaknya satu sekolah dengan Biru tapi sekarang pasti beda kelas. Aku masuk aula dan duduk di sampingnya. Sembari menunggu Entik, menebus keterlambatan turut acara sosialisasi. Siapa tahu memang ada yang perlu kami tahu.
“Undangannya sih sosialisasi tapi pasti isinya nggak beda dari yang kemarin-kemarin. Banyak ceramah, tausiah, muter-muter… cuma menghabiskan waktu produktif kita,” kata Mas Adlan. 
Aku tertawa, ingat saat menghadiri pertemuan orang tua, guru, dan komite sekolah ketika Biru masih kelas VII. Isinya memang seperti yang Mas Adlan ungkapkan. Akibatnya, waktu itu, aku “tak kuat” dan keluar. Pulang.
EMPAT guru, perempuan semua, masuk dan menempatkan diri di depan, duduk bertentang dengan para orang tua murid. Seorang di antara mereka bertindak sebagai pembawa acara. Setelah mengucap salam, dia mengatakan, “Sambil menunggu Kepala Sekolah, perlu saya sampaikan, Bapak-Ibu jangan malas atau bosan untuk memenuhi undangan kami. Anak-anak kita akan menghadapi ujian nasional, kita akan bertemu beberapa kali lagi…” 
Kepala Sekolah datang. Masih muda. Jauh lebih muda daripada kepala sekolah sebelumnya. “Karena sudah rawuh, waktu dan tempat kami haturkan kepada Ibu Hajah Hidayatun S.Ag, M.Pd…” kata pembawa acara.
Setelah salam dan sedikit basa-basi, Kepala Sekolah menyampaikan “materi sosialisasi” dalam bentuk power point sederhana. Dari tujuan mengundang orang tua, mata pelajaran yang akan diujikan, hasil penjajakan ujian nasional (PUN) pertama yang belum menggembirakan, sampai hasil survei kecil-kecilan terhadap kebiasaan murid yang membuat mereka tidak fokus belajar.
“Gangguan dari luar sangat banyak. Dari hape, tivi, sampai internet. Mereka tak bisa lepas dari semua itu, terutama hape. Lima menit saja tidak menengok hape, galau… Belajar pun tidak fokus, tidak efektif. Hape orang tua hape lama yang tahan banting tapi hape anak-anak canggih semua. Siapa yang membelikan? Panjenengan juga kan?” katanya. Kami, para orang tua, cuma senyam-senyum.
“Saat saya minta untuk jujur dan yang mengaku tidak akan dihukum,” lanjut Kepala Sekolah, “sebagian besar anak mengatakan sering tidak belajar. Masuk kamar tapi tidak belajar, hanya sibuk SMS-an, fesbukan, atau twiteran. Padahal sudah kelas sembilan lho, Pak… Bu... Anak-anak dilarang bawa hape ke sekolah, eh, bawa juga. Saat razia, kami dapatkan hape sak-dhunak, kami sita. Eh, ada saja orang tua yang mengambil dengan berbagai alasan, mau dijual untuk uang saku study tour, misalnya, kemudian diberikan lagi pada si anak. Naaa… program belajar dengan baik di sekolah tidak jalan kalau begini terus.”
“Menghadapi anak memang susah. Nggak dibelikan hape canggih, minder, nggak mau bergaul. Pegang hape, lupa belajar. Orang tua nyuruh gini nyuruh gitu, melarang ini melarang itu, mereka bilang cerewet,“ curhat Mas Adlan, bisik-bisik. 
Aku mengamini saja, “Iya, Mas. Susah.”
“Nah, menjelang ujian ini, agar anak-anak fokus belajar, bagaimana kalau mulai semester depan, mereka tidak pegang hape dulu kecuali hari Minggu? Jika Bapak-Ibu seratus persen setuju, besok saya sampaikan pada mereka… Setuju, Pak, Bu?”
“Setujuuuuu!!!”

DENGAN bahasa dan pembawaan cukup memikat, Bu Hidayatun meminta para orang tua untuk “turut mengawal anak-anak menghadapi ujian nasional”. Selain agar lulus dengan nilai bagus, juga agar bisa masuk ke SMA yang mereka inginkan. Yang sangat tak tersangka, dia juga menyampaikan perkara seragam sekolah yang kalah oleh pertumbuhan badan anak hingga bikin tak nyaman saat belajar.
“Celana anak-anak putra sudah cingkrang, baju anak-anak putri mengetat. Anak putri yang dadanya tumbuh tapi baju mengetat hingga kancingnya tertarik nyaris lepas, jadi membungkuk atau menutup dada dengan tangan ketika bergerak. Kelihatannya sepele tapi sangat mengganggu. Bapak dan Ibu pasti berpikiran, sebentar lagi lulus, untuk apa beli seragam baru. Eman-eman uangnya. Tapi kasihan mereka, Pak, Bu… Jika tidak nyaman, mereka juga akan sulit fokus belajar,” kata Bu Hidayatun.
Dia menambahkan, “Pas anak-anak berangkat study tour semester lalu saya lihat, banyak yang memakai sepatu baru, baju baru, celana baru, jaket baru, bahkan tas mereka pun baru… Tapi saat masuk sekolah lagi, kembali ke seragam lama yang bikin tidak nyaman belajar itu. Saya khawatir mereka berpikiran, sekolah tidak lebih penting dari wisata. Saya tidak minta Bapak-Ibu membelikan seragam baru, apalagi mahal… silakan saja, yang penting cukup dan nyaman untuk mereka pakai.”
Sebelum menutup dengan salam, Kepala Sekolah meminta para orang tua untuk banyak berdoa bagi keberhasilan anak-anak. “Setiap hari, mereka kami minta untuk mendoakan orang tua masing-masing. Sekarang, saya juga minta panjenengan semua untuk mendoakan mereka sebab energi doa sangatlah besar dan kuat. Lebih-lebih doa orang tua…”
Wow! Beda. Ya, kepala sekolah yang ini beda. Thas-thes, tidak bertele-tele, tidak meletakkan orang tua murid sebagai pihak yang harus diceramahi, ditausiahi, tapi pihak yang mesti diberi gambaran keseharian anak di sekolah, capaian, dan harapan serta diajak untuk bergerak bersama. Hanya sekali-dua dia mengutip hadist Nabi, itu pun sebagai penguat, penegas, bukan sekadar pembenar.
Aku sampaikan kesimpulan itu pada Entik dalam perjalanan ke sekolah Gigih. “Biru pernah bilang, kepala sekolahnya yang sekarang memang cerdas…” katanya.

Tuesday, December 16, 2014

Gitar Pertama, Gitar Kegigihan (2)


JUMAT, 12 Desember, pagi ketika hendak berangkat sekolah, Gigih teriak pada ibunya, “Eh, Buk, hari ini Bapak ulang tahun kan?”
“Iya. Kamu udah ngucapin selamat belum?”
Gigih bergegas masuk kamar dan menemuiku yang sedang menyunting tulisan untuk majalah Kabar Kadin. Kukira akan mengucapkan selamat dan cium pipi, ternyata: “Pak, kita beli gitar nanti siang kan?”
“Wah, nggak ngasih hadiah kok malah nagih?”
“Ya, kan Bapak utang hadiah sama aku. Beli gitar dulu…”
Usai jumatan, aku tidur. Saat bangun sore, Gigih sedang main bola bersama teman-temannya. Saat itulah aku bersepeda ke ATM terdekat, mengambil rezeki yang datang tepat pada waktunya. Petang, ketika hendak mandi, Gigih bertanya, “Gramedia buka sampai jam berapa ya, Pak?”
“Sembilan malam. Tapi sebaiknya besok pagi aja biar nggak buru-buru.”
“Ya wislah…”
Malam, agar Gigih tenteram, kuserahkan “uang tabungan” itu dalam amplop. Dia menerima dengan senang. “Eh, tapi aku hitung dulu, siapa tahu kurang…” katanya seraya mengeluarkan pecahan Rp 50.000 itu dari amplop dan menghitungnya dengan cermat. “Yes, pas!” Kemudian dia mengambil spidol dan menulisi amplop itu:
                                   
                                                Nama: Gigih Arung Bumi
                                                Uang: 1.400.000
                                                Untuk membeli: Gitar
                                                Merek: Legacy
                                                Warna: Hitam merah
ESOKNYA, Sabtu 13 Desember, berdua saja kami berangkat. Entik tak turut karena hari ulang tahunku sudah lewat, Biru tak ikut karena sekolah. Kami sepakat: berangkat naik bis dan angkot, pulang naik taksi. “Ujian” kesabaran terjadi saat menunggu bis yang memang kian langka. Hampir satu jam kami berdiri di pinggir jalan, baru ada satu bis yang lewat. Selama menunggu itu, tampak Gigih berusaha menyembunyikan gelisah. Hebat betul dia. 
“Kita duhuran dulu aja ya, Cung… biar tenang, nggak punya tanggungan,” kataku saat kami sampai di Java Supermall. 
“Okeh!”
Usai sholat, kami ke Toko Buku Gramedia di lantai III. Ternyata, tak ada gitar hitam-merah merek Legacy. “Ke Gramedia Pandanaran aja, Pak…” kata Gigih. Dan kami pun bergegas keluar mal, menyeberang ke tempat angkot ngetem. Untung ada yang langsung jalan. 
Sampai di tujuan, Gigih nanar mencari gitar yang “pernah dia peluk” delapan bulan lalu. Ternyata, tak ada juga. Dia amati lagi deretan gitar itu, mencari pengganti. “Itu Pak, yang hitam-putih itu, bentuk dan mereknya sama,” katanya.
Betul. Hanya beda di merah-putih dan… harga! Dulu diskon 30%, sekarang 25%. Tidak turun, jatuhnya malah naik. Dulu Rp 1.386.000, sekarang Rp 1.485.000. Aku minta pelayan toko mengambilkan gitar itu agar Gigih bisa memeriksa dan mencobanya.
“O ya, Mas, gitarnya bisa disambungin ke sound kan?”
“Bisa, Pak!”
Gigih menukas, “Jangan Pak, nanti orang-orang pada denger.”
“Ya nggak papa, nanti kan pada takjub.” 
Dia tersenyum dan mulai memainkan intro lagu “Bongkar” yang sedang dia suka. Orang-orang yang lewat dan mendengar lagu itu segera mencari lewat pandangan siapa yang main gitar. Agak susah, karena Gigih imut dan duduk di kursi dekat piano. 
“Udah? Mantap pilih yang ini?”
Gigih mengangguk.
“Tapi uangnya nggak cukup lagi.”
“Bapak nambahi to, kan cuma kurang 85 ribu…” 
Di kasir, Gigih menyerahkan uang dalam amplop tertutup itu. 
“Beli dengan tabungan sendiri ya? Pinter banget…” kata Mbak Kasir. 
“Sang gitaris” tersenyum bangga. “Aku aja yang bawa, Pak,” katanya meminta gitar yang baru saja aku terima dari penjaga toko. Maka dari Toko Buku Gramedia ke depan Masjid Baiturrahman, tempat ngetem taksi, Gigih berjalan dengan gitar di punggung. Gitar pertamanya, gitar lambang kegigihannnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar