7 Hari Menembus Waktu
Setelah tangisnya mereda Marissa keluar dari toilet dan kembali ke dalam
Hall untuk mengikuti acara selanjutnya. Disana matanya tertuju pada
sebuah lukisan yang lain dari yang lain yaitu lukisan berukuran satu
kali satu meter persegi yang hanya melukisakan lingkaran merah dengan
berlatar belakang warna hitam pekat dan berjudul Menembus Waktu yang
berketerangan dipercaya bisa mengabulkan sebual permohonan. Keadaan hati
yang kacau memaksanya menumpahkan perasaan bencinya terhadap Selina,
Michael, Papi dan juga Maminya serta gedung perusahaan papinya yang
membuat Marissa harus bertemu Michael dan Selina serta orang-orang yang
ada di gedung tersebut. Ia ingin dirinya menghilang dari tempatnya kini
dan sampai akal sehatnya merasuki pikirannya, Ia tersadar ia melakukan
hal bodoh berbicara dengan lukisan dan sadar untuk menemui Maminya di
lantai bawah. Namun tiba-tiba gedung tersebut bergetar hebat sehingga
membuat Marissa terjatuh dan tak sadarkan diri.
Ia
tersadar kembali dan berusaha untuk melihat keseluruh penjuru gedung,
namun semuanya gelap gulita dan sepi. Saat ia berfikir karena pesta
telah usai dan berniat pulang, ia melihat papan putih besar di depan
gedung bahwa Gedung Albatross akan dibuka tanggal 6 Juli 1998. Spontan
Marissa merasa aneh. Tentu saja karena baru 20 menit yang lalu ia pergi
ke gedung ini untuk perayaan yang ke-20 tahunnya namun yang ia lihat,
gedung inipun belum dibuka. Ia merasa pikirannya benar-benar kacau dan
berniat pulang ke rumah. Sepanjang jalan, ia melihat mobil dan motor
yang tidak seperti biasanya. Di jalan rumahnya, ia melihat banyak
anak-anak yang bermain sore itu padahal ia ingat kalau disepanjang jalan
rumahnya tak ada anak-anak kecil yang tinggal. Setiba dirumah, ia
merasakan perbedaan dan merasa itu bukan rumahnya. Marissa berjalan
pergi sampai melihat seorang anak kecil yang berdiri ditengah jalan dan
ada sebuah mobil berkecepatan tinggi yang akan menabraknya. Spontan
Marissa menyelamatkan anak itu dan terjatuh di pinggir jalan. Marissa
menanyai keadaan anak itu, namun anak itu malah langsung pergi tanpa
mengucapkan terimakasih sedikitpun. Merasa kesal, Marissa membentak anak
itu namun tatapan sedingin es yang muncul saat anak itu membalikkan
badannya dan membuat Marissa bergidik. Tiba-tiba ia ingat rumah dan
orang tuanya menghilang. Ia menarik bentakannya dan memohon kepada anak
itu untuk membiarkannya tinggal di rumahnya beberapa hari sebagai tanda
terimakasih, namun ditolak oleh anak itu. Marissa yang marah pergi
meninggalkan anak itu dan berteriak kalau ia merasa orang yang paling
sial karena telah kehilangan segalanya dan ia tak tahu ada dimana juga
tak punya uang. Anak yang ditolong Marissa merasa iba dan membolehkan
Marissa tinggal di rumahnya dengan syarat tidak membuatnya kesal seraya
memperkenalkan namanya, William dan berumur 8 tahun, yang sangat cerdas
jika dibandingkan dengan anak seumurnya.
Keesokan
paginya marissa terbangun dia kira dia sudah kembali ke tahunnya tetapi
dia dikejutkan oleh kenyataan bahwa dirinya bukan di kamarnya,
melainkan di kamar yang disediakan William untuknya dan tanggal
menunjukkan tanggal 30 juni 1988. Marissa mengatakan bagaimana ia
terlempar ke 20 tahun sebelum masanya, bahkan saat ia belum lahir dan
mengatakan bahwa lukisan di Gedung Albatross lah yang membuatnya begini.
Namun William tidak mempercayainya.
Hari
demi hari ia lewati bersama William. Anak ini memang benar-benar tidak
bisa diajak bercanda sedikit-sedikit marah, tetapi lama kelamaan William
pun luluh dengan kehadiaran Marissa. Setiap hari mereka pergi bersama.
Setiap pagi Marissa mengantar William pergi ke tempat les. Lalu ia pergi
ke kampus ayah dan ibunya untuk mengecek keadaan mereka. Selesainya
william les privat mereka jalan berdua makan dipinggir jalan, atau pun
hanya sekedar berjalan mengelilingi kompleks Hari-hari itu juga ia
gunakan untuk merajut hubungan mami dan papinya yang belum berpacaran
hingga saling mencintai.
6
Juli 1988, Gedung Albatross dibuka. Marissa berniat untuk kembali ke
gedung itu untuk melihat lukisan yang membawanya ke tahun ini. Ia
menemui ayahnya yang masih muda dan memeluknya untuk terakhir kalinya ia
ada dimasa itu. Diana yang melihat hal itu menjadi marah karena
menyangka kalau Ferry selingkuh, padahal Marissa adalah anak mereka di
masa depan. Diana yang salah paham pergi meninggalkan Marissa dan Ferry
mengejar Diana. Marissa sedih, hari kepulangannya harus diwarnai
kesalahpahaman orangtuanya. Ini akan membuat keduanya putus tak saling
kontak dan berarti mereka tidak menikah serta Marissa tak akan lahir ke
dunia. Marissa yang tengah menceritakan semua itu ke William tiba-tiba
merasa kedinginan dan lemas hingga tak kuat berdiri dan harus pingsan
saat William membawanya ke tempat tidur. William yang khawatir akan itu
memegang kening serta tangan Marissa yang semakin dingin, padahal udara
di ruangan sangat panas.
William
berfikir sejenak. Kalau hubungan ayah ibunya hancur dan putus tengah
jalan. Itu artinya mereka tidak akan menikah, dan marissa tidak akan
hidup! Seketika itu juga william berlari mengabil sepedanya dan mencari
rumah ferry. Setelah sampai disana dia langsung mengatakan semuanya
tentang Marissa dan seluruh perasaan Ferry yang begitu menyukai Diana.
William menyuruh Ferry menemui Diana dengan paksa dan mengatakan segenap
perasaannya kepadanya. Ferry yang menyadari hal itu langsung pergi ke
rumah Diana dan berteriak agar Diana mau menemuinya. Ayah Diana yang
mendengar seseorang berteriak di depan rumahnya menyuruh Diana keluar
dan menemuinya. Ayahnya menasehati Diana bahwa Ferry bukanlah seorang
yang mempermainkan perasaannya. Beliau mengatakan bahwa ia hanya salah
paham dan Diana menuruti perkataan ayahnya.
Diana
turun dan meminta Ferry menjelaskan kejadian itu. Ferry menceritakan
kesalahpahamannya sekaligus mengungkapkan perasaannya untuk kedua
kalinya dan kali ini lebih terlihat jujur, serta bertatapan mata tulus.
Diana yang mengetahui hal tersebut memaafkan Ferry dan menerima
perasaannya. Ini membuat keduanya kembali saling mencintai dan menghapus
kesalahpahaman yang ada.
William
segera pulang setelah menyuruh Ferry menemui Diana dan segera ke kamar
tidur untuk melihat keadaan Marissa. Marissa yang baru saja membuka
matanya merasa ia telah lolos dari kejaran waktu yang memaksanya untuk
menghilang dari dunia. Ini membuat William sangat senang dan Marissa
mengajaknya ke pantai sebagai tanda terimakasih karena sudah merawatnya
saat sakit sekaligus salam perpisahannya.
Siang
itu William dan Marissa benar-benar menghabiskan waktu berdua di
pantai. Mereka membuat istana pasir, mereka membuat tatto yg sama mereka
berlarian di pasir dengan kaki telanjang. Mereka benar-benar menikmati
waktu waktu terakhir itu dan saat hari mulai sore, William mengantar
Marissa ke Gedung Albatross yang berjanji akan pulang hari ini.
Sesampainya
disana Marissa melihat wajah William yang tadinya bersemangat menjadi
lesu sedih. Marissa berkata “Terimakasih William atas segalanya, aku
akan merindukanmu, dan semua nya. Semoga kita bisa bertemu di masa depan
William”. William hanya mengangguk sedih dan berterimakasih kembali
karena sudah mengajarinya hal-hal baru yang membuatnya menikmati masa
anak-anaknya walau orangtuanya sudah tiada.
Setelah
mengucapkan salam perpisahan, Marissa menepuk halus kepala William dan
berbalik pergi memasuki Gedung Albatross. Segera ia menuju ke lantai 3
tempat lukisan itu berada dan benar saja, lukisa itu telah terpasang.
Segera, Marissa mengucapkan permohonannya untuk kembali ke masanya dan
gedung yang bergetar kembali mengiring Marissa pulang ke 6 Juli 2008
masanya.
William
yang melihat Marissa tak keluar gedung berfikir bahwa Marissa
benar-benar pulang ke masanya dan ia pun berjalan lesu menuju rumah. Di
depan rumahnya, Tante Sarah yang selama ini jarang menjaga William
mengunggunya. Tante Sarah meminta maaf atas perbuatannya yang selalu
mabuk-mabukan hingga tak pernah merawat William yang kesepian ditinggal
mati orangtuanya. Tante Sarah berjanji untuk mengubah sifatnya menjadi
lebih baik dan mengulang semua hal dari awal. William yang dulu tidak
mempercayainya kini luluh dan mulai menganggap keberadaannya. Kehidupan
William pun lebih menyenangkan karena ada Tante Sarah yang sudah
disadarkan oleh Marissa.
Marissa
membuka mata dang langsung menyadari bahwa ia telah kembali ke masanya.
Ia sangat senang dan langsung memeluk kedua orang tuanya dengan erat
saking rindunya. Mami dan papinya saling berhadapan dan bingung karena
baru 10 menit ke toilet, sifatnya berubah.
Tak
lama kemudian, saat Marissa berjalan keluar hall ia melihat Michael
sedang menungunya dan meminta maaf akan perbuatannya. Marissa
memaafkannya namun tidak menerima perasaannya lagi. Ia lupa akan sakit
hati yang disebabkan Michael dan Selina karena telah terhapus oleh
kehidupan berharga di rumah William selama 7 hari.
Ia
meninggalkan William dan pergi ke ruang makan untuk menyantap makanan
yang ada. Ia terkenal sangat banyak makan sehingga 3 porsi makanan habis
dimakannya. Tiba-tiba seseorang mengatai kalau ia banyak makan, ia akan
sakit perut. Marissa yang tak terima dikatai begitu merasa pernah
mendengar perkataan ini sebelumnya. Saat ia membalikkan tubuhnya, ia
melihat seorang pria tampan, tinggi dan familier baginya. Pria itu
memeluknya dan mengungkapkan bahwa ia merindukan masa-masa 20 tahun itu.
Seketika Marissa teringat dan mengetahui bahwa Williamlah yang tengah
memeluknya ini. Kini ia 10 tahun lebih tua darinya. Berbeda saat Marissa
tinggal dirumahnya kalau ialah yang 10 tahun lebih tua dari William.
Setelah pelukan itu, keduanya melepas rindu dan William memberikan
kelereng biru yang dulu diincar Marissa kepadanya. Marissa sangat senang
dan tiba-tiba papi dan maminya datang. Mereka mengatakan bahwa William
adalah klien papinya dan menyuruhnya berkenalan. William yang melihat
Marissa yang terlihat bingung karena baru saja dipeluknya memberitahu
papi dan mami Marissa bahwa mereka telah saling kenal. Ya, sudah saling
kenal sejak 20 tahun lalu. Papi dan mami Marissa kaget dan bingung
sementara Marissa dan William berpandangan tengan tatapan penuh arti.
SELESAI.........
Tidak ada komentar:
Posting Komentar