Sengaja ngumpulin kulwit pakar #FoodCombining Erikar Lebang seputar
Kanker. Walau ditulisan sebelumnya sempat saya lampirkan tentang
#KibulanKanker
deaedensor.blogspot/kankertidakseseramhantu.com
Masih dan sering penyakit ini dianggap begitu rumit, seram menakutkan,
sehingga penyebab sebenarnya lepas dilihat yang berakibat penanganan
yang keliru.
Dari beberapa kulwit ini bisa kita lihat ternyata ga rumit kok... asal mau membuka wawasan dan berpola pikir terbuka...
Yuk, simak perlahan kulwit-kulwit ini :
Dea Edensor published a note.
August 11, 2014 at 2:23pm ·
"Pencetus Kanker?! Kontrol Gaya Hidup"
By @erikarlebang
Ini nonton acara kesehatan, lihat dokternya mendefinisikan kanker.
Ironis banget, kalimat pertama yang keluar genetik! Tuhan disalahkan"
Balik bicara kanker, kebetulan tadi dokternya sendiri sudah mengatakan,
"kanker gak bisa didaulat punya penyebab hanya satu" Ini rada bener"
Penyebab kanker itu seharusnya bersifat akumulatif. Dan harus muncul
secara TSM (terstruktur, sistematis dan massive) #eh lho ini sidang MK?"
Ngga ding, beneran. Sel kanker harus berjumlah miliaran-triliunan dalam
tubuh manusia dan saling terkoordinasi untuk bisa merusak kesehatan"
Nah ketauan kan? Bahwa sel kanker yang berjumlah segitu, gak mungkin
muncul dalam hitungan singkat hari, minggu atau bulan bahkan tahun"
Mengacu lagi pada temuan Prof Kazuo Murakami, seorang profesor dari
universitas Vanderbilt, US. Yang berjasa memetakan kode genetika
manusia"
Ia berjasa menguraikan kode genetik enzim 'renin', yang membuat
pemahaman akan problem tekanan darah tinggi menjadi jauh lebih baik"
Ia pun menemukan hal terkait kanker yang sangat menarik, sel kanker itu
secara genetika membutuhkan semacam pengaktif, "tombol on-off'"
Apa pengaktifnya? Dalam penelitiannya menemukan bahwa gaya hidup, faktor
psikologis sebagai pemicu potensial. Ia sangat tertarik pola makan"
Yang menarik lagi ia mengatakan secara genetika kelemahan itu memang
ada, ada yang lemah dan ada yang sangat kuat, tapi tetap butuh pemicu"
Bicara pemicu, Dr. Otto Heinrich Warburg tahun 1931 sudah dianugerahi
nobel untuk penemuannya terkait metabolisme dan respirasi sel kanker"
Salah satu sifat spesifik sel kanker yang ia temukan, kebutuhan sel
kanker akan PH darah cenderung asam untuk hidup serta berkembang biak"
Ini sebenarnya signal kuat cara mengalahkan atau setidaknya
mengendalikan sel kanker. Kalau mau di-switch off atau dibuat tidak
berdaya"
Saya pernah membuat kultwit, kenapa temuan Dr. Warburg ini diacuhkan
dunia kesehatan konvensional, mungkin bisa dibaca untuk yang memerlukan"
Bicara PH darah cenderung asam, tentu saja faktor gaya hidup adalah
pembicaraan utama. Sila mengacu pada kultwit dan edukasi saya selama
ini"
Kalau ini ditindak lanjuti lebih jauh, saya kira faktor genetik yang
menjadi faktor kanker pertama diucap oleh dokter tadi, bisa dienyahkan"
Kita harus mengkoreksi pola hidup dan menjauhkan faktor pemicu. Semisal,
mengurangi pola makan pembentuk PH asam, agar tidak ubah sifat sel"
Sehingga gen yang lemah dan mudah terpicu sekalipun, tidak memiliki kesempatan untuk tubuhnya mengubah sel menjadi sel kanker"
Dari sisi lain, selain pola makan, faktor psikologis bisa jadi faktor
pemicu kanker. Dr. Masashi Saito, seorang spesialis bidang anti aging"
Dokter yang berdomisili di New York ini menemukan, walau secara empiris,
banyak penderita kanker yang ditemukan berkarakter empati tinggi"
Dengan kata lain ia mengatakan, seseorang yang secara psikologis banyak
memikirkan orang lain, dan rentan ada dalam kondisi stress tinggi"
Lebih potensial untuk terkena kanker. Ini bisa menjadi sisi menarik,
bila temuannya disikapi lebih jauh dengan logika ilmiah yang mumpuni"
Kalau sisi lain lagi, terkait gaya hidup, pernah ditengarai bahwa waktu
tidur yang terganggu membuat orang juga rentan terkena kanker"
Secara logika ini masuk akal, mengingat bahwa saat tidur adalah momen
dimana tubuh merestrukturisasi diri, termasuk kebugaran sel tubuh"
Jadi normal bila waktu tidur terganggu, tidak heran bila sel kanker
punya kesempatan memperkuat diri atau berkembang biak lebih besar"
Apa yang disampaikan kultwit ini sekedar untuk menggeser paradigma
berpikir umum yang cenderung dahulukan genetika sebagai pencetus kanker"
Yang ujung-ujungnya menyalahkan Tuhan sebagai penyebab kanker. Padahal
bukan. Mau alasannya cobaan atau apapun, Tuhan gak sekejam itu"
Faktor pemicu kanker seharusnya bisa dikendalikan secara aktif oleh pemilik tubuh. Kuncinya di kontrol gaya hidup"
Demikian kibulan ini, suka sukur gak suka unfollow. Gak follow bawel?
Sel kanker dipicu kurang tidur? Ya udah tidur lagi deh *tarik selimut*"
Dea Edensor published a note.
August 27, 2014 at 8:06pm ·
Pasca Kanker vs Pola Makan Sehat
Kulwit By @erikarlebang
Saya akan melihatnya dari sudut pandang yang sedikit berbeda
Baru saja dapat kabar, kalau ada kenalan kami yang meninggal karena
kanker. Beberapa waktu lalu, kami sempat beberapa kali bertemu beliau
Dia kepingin bertemu dan tukar pikiran sekaligus bertanya tentang kanker
kepada saya. Waktu bertemu, beliau masih terlihat segar saja
Kecuali rambutnya yang habis pasca kemo, penampilannya normal, bahakan
kulitnya halus kencang, lumayan untuk ukuran orang berusia 50 tahunan
Saya sempat bertanya tentang kulitnya yang terlihat halus itu, "Ini
soalnya aku pas kena kanker, langsung cuma makan buah dan sayur saja"
Wah bagus dong. Logika yang pas dengan dua kultwit saya yang tadi
disebut di awal. Pikir saya kondisi ini akan jauh lebih mudah lagi
Dia juga bertanya tentang manfaat #AirKangen, saya sampaikan dimana
peran elemen satu ini dalam menanggulangi perkembangan sel kanker
Semua berjalan baik-baik saja. Sampai saat tiba waktunya makan siang.
Dia mengajak kami yang bertandang ke rumah beliau makan menu rumahnya
Agak bingung saya waktu melihat, "lho kok menunya ayam betutu?" Selain
basis utamanya protein hewani, proses masaknya yang dipanggang
Membuat sel kanker bagai mendapatkan bensin untuk bisa hidup leluasa
dalam tubuh seseorang. Berkembang biak tentunya. Saya lalu bertanya
"Bukannya tante sudah makan buah dan sayur ekslusif?". Dia menggeleng,
sekarang bebas. Soalnya kata dokternya, makan boleh apa saja
Nah di titik ini saya speechless, percuma rasanya bicara panjang lebar
tentang hukum asam-basa, kondisi homeostasis, #airkangen dan lainnya
Kalau ahli kesehatan yang dipercaya dan punya otoritas, mengucapkan
kalimat pamungkas, membuat segalanya jadi mentah kembali ke titik nol
Makanya saat mendengar kabar meninggalnya beliau, dan mengingat kejadian
tadi, saya gak terlalu terkejut-terkejut amat. Sel kanker menang
Bukan dalam konteks, sel kankernya memang harus menang. Tapi lebih
karena perlawanan yang ada di fase awal, mendadak berhenti dan berbalik
Tubuh yang tadinya disupport untuk 'menang' melawan sel kanker dengan
dukungan pola makan yang tepat, mendadak dibalik, 'dikhianati'
Sel kankernya malah seakan diperkuat untuk berkembang biak dan merusak
lewat pola makan yang diubah. Sayangnya karena advis yang salah
Advis yang mengabaikan perawatan tubuh via pola makan, dengan logika
"Boleh makan apa saja, yang penting masih selera.." sangat menyesatkan
Logika ini lahir akibat paham kuratif mendominasi dunia kesehatan kita,
prioritas pada: "Biarkan sakit, nanti kita carikan obatnya apa?"
Logika atasi penyakit yang di level awal, mungkin dengan konsep kuratif
bisa disembuhkan, tapi dengan kondisi seperti kanker? Jelas tidak
Kanker muncul bukan dalam waktu seminggu, sebulan, setahun. Tapi belasan
hingga puluhan tahun, butuh tubuh yang tepat, bagi dia untuk tumbuh
Sedihnya, perawatan konvensional kanker, justru membuat tubuh yang tepat
untuk sel kanker berkembang biak itu, menjadi semakin lebih 'tepat'
Kemoterapi semisal, ia memang bisa membunuh sel kanker secara instan di tempat dimana ia sedang berkembang biak. Tapi...
Sel sehat yang ikut dirusak, reaksi penolakan tubuh terhadap 'racun'
kemoterapi, turunnya daya tahan tubuh pasca kemo, punya bahaya laten
Sel kanker bisa berkembang biak di tempat lain. Karena tubuh induk dalam
keadaan lemah. Diperparah lagi, pola makan penyebabnya tidak diubah
Makanya saya gak heran, kalau ada orang yang dianggap sukses menjalani terapi kanker, mendadak muncul lagi, dan lebih parah
Karena logika itu terjadi. Penderita kanker yang tahu diri dan mengubah
pola hidupnya secara benar, memang tidak bisa dijamin 100% sembuh
Tapi paling tidak, dia bisa menguasai dirinya lebih baik. Dia tidak
mengkhianati tubuh dengan memfasilitasi sel kanker merusak dirinya
Dia juga setidaknya terhindar dari kondisi terpuruk, harus menjalani
terapi konvensional begitu saja tanpa ada upaya perbaikan diri
Melakukan kemoterapi, tapi menjaga pola makan dengan hanya mengkonsumsi
buah, sayuran segar serta air putih akan menghasilkan efek berbeda
Dengan penderita kanker yang menjalani terapi konvensional, pasca
kemoterapi diberi makan bubur, protein hewani proses dan segelas susu
Bahkan menu yang sepintas terlihat sehat ini, tetap masih seperti pupuk
yang menyuburkan lahan tubuh bagi sel kanker pic.twitter.com/yHgPZkn5as
Walau diembeli disiapkan dengan higienis, cermat, dibarengi ilmu gizi
terukur, tapi konsepnya sudah kuno untuk kanker
pic.twitter.com/L3fyfoCCwx
Jadi kembali, ubah konsep pemahaman makan sehat secara radikal. Jangan
mau kalah radikal dengan sifat sel kanker. Mandiri cari ilmu sendiri
Pergunakan akal sehat tentunya, mana yang masuk akal, mana yang cuma hoax. Lalu niatkan diri untuk melakukan dengan benar
Demikian kibulan ini suka sukur, gak suka unfollow. Makan apa saja yang
penting masih selera? Coba tanya temen sebelah, mau gak dia dimakan?
Dea Edensor published a note.
October 15, 2014 at 9:28am ·
Pizza pencegah kanker?! kesehatan basisnya adalah perawatan tubuh secara holistik, menyeluruh!
By @erikarlebang
Hadeuh, ini keluar lagi omongan mencegah kanker dengan secara periodik
mengkonsumsi pizza! Ngasal se-ngasal-ngasalnya yang ngomong
Dulu memang pernah ada penelitian tentang ini, tapi basisnya sekali baca
aja udah bikin ketawa. Pizza mencegah kanker, karena ada oreganonya
Problemnya kalau dibaca dari arah penelitian itu, sepertinya oregano
diteliti sendirian kegunaannya, bukan saat digabung ke pizza
Balik lagi ke masalah pizza...
Padahal kalau melihat pizza-nya secara general, orang awam masalah
kesehatan aja, bisa bilang kalau pizza itu sebenarnya tergolong junk
food
Dengan basisnya yang tepung, sudah pasti tinggi gula dan tinggi gluten.
Dengan dipanggang, jelas akan banyak merangsang reaksi karsinogenik
Belum isi topingnya yang bisa dijejali sosis, daging asap. Belum lapisan
keju mozzarella yang sulit dicerna oleh tubuh. Pencegah kanker?
Dimakan bertahun-tahun? Efeknya gak kebalik aja udah sukur. Oregano bisa
menyelamatkan pizza sebagai alat anti kanker? Itu berlebihan
Kalau Ronaldo diambil dari Portugal, lantas dimasukkan ke dalam timnas
Indonesia, diikutkan ke Piala Dunia 2018, bisa juara gak kira-kira?
Cuma orang sama sekali gak kenal sama sepakbola yang bilang "bisa"! 1
Ronaldo bisa menyelamatkan 10 pemain kualitas mediocre di Piala Dunia?
Atau kalau ada yang bilang Goetze sendirian bisa membawa Jerman juara
piala dunia, pasti dia juga gak paham sepakbola. Emang timnya bagus!
Nah berdasar analogi itu, logis gak kalau bilang Oregano dalam Pizza
bisa menjadi penyelamat orang yang makan dari bahaya kanker?
Itu kesalahan mendasar dari konsep Food Therapy yang didasari oleh paham
medis berbasis kuratif, pengobatan! Apa-apa dilihat secara parsial
Pengobatan itu dilihat bukan sebagai kesatuan utuh. Padahal kesehatan
basisnya adalah perawatan tubuh secara holistik, menyeluruh!
Percuma makan oregano, biarpun kegunaannya selangit, kalau 'jagoan' itu
jumlahnya cuma sejumput, tapi dikelilingi oleh 'penjahat'
Demikian kibulan ini, suka sukur gak suka unfollow! Gak follow bawel?
Pizza pencegah kanker? Iya, tapi oreganonya sebaskom, dan dihirup!
Dea Edensor published a note.
November 21, 2014 at 8:20pm ·
Pengobatan kanker vs Pola Makan Sehat
By @erikarlebang
Yak kultwit pemakaian obat lagi nih, temen lagi cerita tentang frustasi
temannya yang divonis kanker lagi, setelah 'sembuh' sekian waktu
Rekan dari teman ini dulunya penderita kanker nasofaring, kemudian
setelah menjalani terapi yang melelahkan dari segala sektor, dia
'sembuh'
Untuk bisa sampai titik kata sembuh bertanda kutip tadi, rekan teman
saya ini sudah melalui fase yang menurut dia "amit-amit banget deh"
Dia 'setengah mati' berusaha menjaga pola hidupnya, supaya kanker itu
terjauhi dan gak kembali. Kelewat hati-hati kalau kata beberapa teman
Bisa kebayang betapa frustasinya dia, saat cek kesehatan rutin,
ditengarai sel kanker kembali muncul, kini di tulangnya. Dunia serasa
kiamat
Dia bingung mau marah ke siapa? Tim dokternya? Keluarganya? Teman?
Ujung-ujungnya sih Tuhan, "kenapa saya?" lalu keluarga, di sisi genetika
Teman saya ini lalu menanyakan pada saya kondisi ini kenapa bisa
terjadi? Jawaban saya sederhana, rekonstruksi ulang gaya hidupnya
"Tapi dia udah jaga hidupnya banget, gak pernah makan yang aneh, malah
sekarang strict banget" kata teman saya. Bisa jadi itu masalahnya
Apa yang mau dijaga? Apa yang harus dikonsumsi? Apa yang harus
dihindari? Ini yang gelap dalam hidup penderita kanker. Teman saya
terdiam
Selama dia jaga makan, apa yang sudah dilakukan? Teman saya langsung
nyerocos detil, "dia cuma makan rebus-rebusan, gak makan junk food"
"Gak makan nasi lagi, diganti kentang sama roti" *mau ketawa pas denger*
"dia rutin konsumsi obat yang disuruh dan herbal buat cegah kanker"
Well kalau bicara pola makan mungkin followers saya udah ngelotok kali
ya? Mau di sisi kanker atau sekedar dalam menjalani keseharian
Saya mau bahas dari sisi pemakaian obat yang dianggap bisa mencegah
kanker. Sejatinya obat adalah 'racun' bagi tubuh, itu poin penting awal
Semakin kuat obatnya, di sisi lain semakin kuat juga efek merusaknya
bagi tubuh. Makanya mengkonsumsi obat, bagi dokter baik, gak sembarang
Biasanya dokter yang baik akan cermat memperhatikan pemberian obat bagi
pasien, sebisa mungkin jumlahnya sedikit, agar tidak kontradiktif
Salah seorang sahabat saya, kini menjadi pakar kesehatan gara-gara
suaminya kena problem liver, diberi obat bejibun untuk atasi masalah itu
Logika dasarnya mengingatkan, "saat obat masuk, liver itu kerja keras,
lah kok ini sudah livernya bermasalah, malah obatnya ditambah?"
Dia hentikan obat itu semua, sambil di sisi lain ia mempelajari pola
makan sehat dan logika kerja tubuh. Walhasil suaminya sehat bugar lagi
Nah kembali ke masalah kanker ini, rasa frustasi rekan teman saya
sebenarnya bisa diantisipasi kalau dia tau logika dasar lain dari kanker
Dr. Otto Heinrich Warburg dalam temuannya yang diganjar nobel tahun 31,
dapatkan satu poin penting terkait kanker, sangat penting sebenarnya
"Dari sisi PH, sel kanker itu memiliki sifat asam, sementara sel sehat
punya sifat basa". Di samping makanan, terkait obat, ini kena banget
Kembali ke hukum dasar, "obat sejatinya adalah racun", secara alamiah
tubuh akan menyikapi obat sebagai pembentuk PH darah yang juga asam
Konsumsi obat berkepanjangan akan membuat karakter PH darah tubuh
cenderung asam, tubuh mati-matian jaga supaya PH-nya netral
(Homeostasis)
Jadi kalau sang rekan teman ini berusaha mencegah kankernya dengan rutin
konsumsi obat, mau normal, mau herbal, sebenarnya kontraproduktif
Mau iming-iming obatnya sehebat apapun, sekuat apapun, secara hal yang
lebih fundamental, PH darah tubuhnya jadi bergerak ke titik asam
Bila itu terjadi, otomatis sifat sel tubuhnya juga akan ada dalam
kecenderungan yang sama. Sel kanker mudah sekali hidup berkembang disana
Inget aja Prof. Kazuo Murakami, ahli genetika dunia, "Sel kanker itu
potensinya ada di semua sel, tinggal saklarnya aja di-on atau off?"
Nah sangat masuk akal bila konsumsi obat berkepanjangan, ya masuk dalam
kategori meng-on-kan saklar kanker dalam sel tubuh manusia
Kenapa kita terbiasa minum obat untuk mengatasi masalah penyakit? Karena
dari kecil, kita dididik untuk begitu dalam menjaga kesehatan
"Saat flu, minum obat pilek", "Saat batuk, ya obat batuk", "Sakit
lambung, minum antasida". Begitu doktrinnya. Merawat kesehatan=minum
obat
Jarang sekali ada informasi bahwa minum obat itu memiliki resiko jangka
panjang. Dalam beberapa kasus bahkan jangka pendek sudah terasa
Ada gak yang pernah cerita minum antasida untuk mencegah asam lambung
berlebih itu punya efek menakutkan secara jangka panjang? Gak ada
Buktinya antasida ada dalam level atas daftar obat paling laku sepanjang
jaman. Gak ada yang cerita efek membasakan lambung semena-mena apa?
Mulai dari terganggunya serapan mineral penting, rusaknya harmoni dalam
lambung, mudah terkikisnya membran pelindung dan masih banyak lagi
Gak ada juga yang sadar, bahwa minum obat antasida berkepanjangan itu
gak pernah benar-benar menyembuhkan sakit lambung, dianggap normal
Kalau pun nanti lambungnya berluka permanen yang parah hingga jadi
kanker, tulangnya osteoporosis, apa pernah ada tinjauan kebiasaan ini?
Jarang sekali! Biasanya langsung nembak, penyebabnya apa? Paling sering
sih genetik. Paling gampang nyalahin Tuhan, karena gak pernah protes
Edukasi pemakaian obat yang tepat, itu kunci kalau mau sehat. Prioritas
utama, jaga kesehatan. Pergunakan logika bodoh ini, jaga rumah Anda
Jangan sampai kebakaran. Kalaupun kena musibah, walau kecil kemungkinan,
saat terjadi baru panggil pemadam kebakaran, siram tuh rumah
Jangan untuk mencegah kebakaran, rumahnya sering-sering disiram sama
mobil pemadam kebakaran. Penghuni rumahnya pilek melulu, yang ada
Pergunakan obat sebagai jalan keluar darurat. Di awal jagalah pola
hidup, jaga pola makan. Tapi jangan asal jaga, cari cara yang benar
Demikian kultwit ini, suka sukur, gak suka unfollow. Gak follow bawel?
Takut sakit jadi makan obat terus? Ganti selai roti Anda dengan salep
Dea Edensor published a note.
February 8 at 11:36am ·
Penyebab Kanker & Penanganan yang Salah Terhadap Kanker
By @erikarlebang
Gak pernah setuju dengan konsep penderita kanker gak perlu diberitahu
sakitnya agar tidak shock. Itu seperti menyapu debu ke bawah karpet
Cara membersihkan ruangan seperti itu cuma membuat efek semu. Yang
nantinya saat kotoran menumpuk, akan memberikan masalah baru, lebih
besar
Sama dengan penderita kanker yang tidak diberi tahu akan penyakitnya.
"Biarkan mereka menikmati hidup", adalah salah satu alasannya
Alasan seperti ini sama kayak menyimpan bom waktu, yang saat meledak
nanti akan membuat beban psikologis penderita makin berlipat jadinya
Minor sekali persentase penderita kanker meninggal dalam keadaan
penyakitnya tidak menggerogoti kualitas hidup mereka. Mayoritas?
Menderita!
Saya punya kerabat yang terserang kanker tulang, keluarga terdekat
sepakat penyakit ini tidak usah diberi tahu padanya. Bahagia? Jelas
tidak
Dia malah menderita luar biasa, karena tidak paham kenapa kondisi
tubuhnya memburuk dari waktu ke waktu, dan rasa sakitnya menjadi-jadi
Saat akhirnya ia tahu bahwa dirinya terkena kanker. Dia shock luar
biasa, karena kondisinya sudah sangat buruk. Menderita hingga wafat
Yang harus dicatat dari pertama divonis hingga meninggal, dimana
mayoritas sisa hidup dijalani tanpa tahu sakit apa? Kondisinya menderita
Berarti niatan untuk membiarkan ia hidup normal tanpa tahu apa
penyakitnya hingga meninggal, jelas tidak tercapai sama sekali. Ia
menderita!
Dan secara mayoritas, ini yang terjadi pada penderita kanker yang
kondisi sakitnya sama sekali tidak diberitahukan pada mereka. Mayoritas!
Kenapa tindakan yang tidak bijaksana ini bisa jadi sangat populer?
Karena cara dunia kesehatan konvensional menangani kanker!
Yang paling umum dari sisi ketidak tahuan, "kenapa seseorang bisa
terkena kanker?". Hampir semua ahli kesehatan katakan ini urusan genetik
Padahal sudah bertubi penelitian terkini yang menemukan, kanker itu
mayoritas dipicu oleh akumulasi kesalahan manusia dalam menjalani hidup
Ini salah satunya http://t.co/v1TEPMLLfj "Cancer is a preventable
disease that requires major lifestyle changes” -Anand P, Kunnumakkara AB
Sudah sering saya kultwitkan cara memperbaiki pola hidup yang dimulai
dari hal sederhana dan mudah, tapi malas dikerjakan, "ubah pola makan"
Logika sederhana kanker juga mayoritas tergambar dari hal sama. Sel
kanker tumbuh subur di penderita yang mengkonsumsi makanan yang cocok
Berdasarkan hal tersebut, berlaku juga hal sebaliknya. Makanlah makanan
yang membuat sel kanker sulit tumbuh subur. Bahkan bisa mati sendiri
Ubah pola hidup yang buat tubuh sebagai tempat "sel kanker tidak bisa
hidup nyaman". Jadikan pola makan sebagai ujung tombak perubahan
Nah kalau penyakitnya gak dikasih tau, bagaimana penderitanya mau mengubah pola hidup? Boro-boro mau merubah pola makan!
Kalau dia makan setiap hari sarat protein hewani, makanan prosesan, mau
muntah saat lihat sayur, lihat buah segar langsung kebayang ulat
Rutin minum susu, teh, kopi dan alkohol bertahun-tahun. Dan dia
menikmati. Bagaimana cara menghentikan, kalau gak dikasih tau kena
kanker?
Ada gitu manusia yang mau mendadak sontak mengubah pola makan minumnya tanpa penyebab?
Ada sih, tapi juarrraaaang banget!
Alasan lain, adalah biaya...
Gak banyak yang sadar, kalau perlakuan menghadapi kanker itu lebih mirip
industri, ketimbang menghadapi penyakit http://t.co/RNwXe8PEjj
Jadi kalau gak punya uang dalam menghadapi kanker. Sering dalam banyak
kesempatan secara realita, pihak terkait sudah angkat tangan duluan
Yang sakit bingung "mau bayar pake apa?" Yang menangani penyakit bingung, "bagaimana dia mau bayarnya?" Solusinya?
Ya sudah jangan beritahu
Saya pernah dateng ke satu acara di RS besar, ada satu orang penderita
kanker dijadikan tema acara, karena kankernya tergolong langka
Di kesempatan itu sekalian RS-nya melaunch produk baru mereka terkait
penanganan kanker. Nyambung? Ya nyambung aja sih. Pas lah momentumnya
Ironinya, penderita kanker yang dijadikan tema acara itu, gak bisa
mempergunakan mesin terbaru RS itu. Kenapa? Karena dia gak mampu bayar!
Terkait kanker, itu contoh kasus klasik kondisi:
"Bagaimana saya mau bayar?" bersanding dengan "Nanti dia bayarnya bagaimana?"
Itu salah pemicu populer, kenapa penderita kanker sering sekali menjadi orang yang paling terlambat tahu, dia sakit apa?
Kanker itu terkait gaya hidup
Untuk mengatasinya, ya ubah gaya itu. Ganti yang lebih baik, dan komit pada hal tersebut!
Kalaupun memang kita tergolong 'unik', terkena kanker karena urusan genetik. Hukum sama tetap berlaku, Tuhan adil kok.
Ubah gaya hidup!
"Sel kankernya gak akan bisa hidup, di tubuh yang tidak membiakan dia hidup!"
Ingat saja hal sederhana ini, mau diketawain kayak apa juga!
Demikian kibulan ini, suka sukur, gak suka unfollow. Gak follow bawel?
Gak masalah gak dikasih tau? Sini kerja ke saya, gak usah tau gaji!
Dea Edensor published a note.
March 29 at 1:13pm ·
Problem Kanker Usus
By @erikarlebang
Dapet berita salah satu teman lama, sekarang sedang berjuang menghadapi
problem kanker usus. Kaget? Sama sekali tidak! Karena sangat tipikal
Teman ini bisa dibilang cetak biru dari apa yang selama ini saya
edukasikan atau sekedar ceritakan. Dari ragam sisi, pola makan gaya
hidup
Yang pasti teman ini adalah anak gym. Kalau saya selama ini cerita
berdasar observasi-logika berdasar pengalaman gym 20 tahunan, dia lebih
Jaman saya belum ikutan ngegym, dia udah sekitar 3-4 tahun duluan. Waktu
itu saya masih bengong liat dia minum protein shake, telan suplemen
Makan protein hewani layaknya karnivora. Bawa bekal isinya daging yang
wujudnya udah gak jelas. Pastinya gak enak, wong gak pake bumbu!
Badannya sih ya jaman itu jelas bikin ngiri. Kekar dan berbentuk serta
minim lapisan lemak. Keren lah.. Buat yang gak tahu kesehatan
Nah skip kenangan masa lalu, apa yang dia alami sekarang, setelah nyaris
seperempat abad, tipikal banget, kanker usus besar! Ya iyalah!
Makan padat protein hewani model, minum protein shake dan konsumsi
suplemen gak jelas gitu. Pasti badannya bereaksi menghasilkan masalah
Saya sudah sering cerita, betapa tubuh manusia itu tidak didisain oleh
Tuhan untuk mengkonsumsi protein hewani dalam jumlah banyak, sering!
Boleh jadi protein hewani lengkap kandungan asam amino pembentuk protein
yang berguna untuk membangun blok sel tubuh, tapi ada tapinya
Proses pemecahan protein hewani menjadi asam amino agar mudah dirangkai
kembali oleh tubuh itu luar biasa rumit dan berat. Rentan cacat
Akhirnya saat dirangkai ulang dijadikan blok sel tubuh, bahan cacat itu
buat 'revitalisasi' sel tubuh dalam keadaan juga cacat, penuh sampah
Sel kanker itu apa? Salah satu definisinya adalah sel yang punya sifat
radikal dalam menyalahi siklus alaminya. Kenapa radikal? Karena cacat
Jadi kalau setelah puluhan tahun teman saya ini terkena kanker usus, ya
saya gak kaget lagi. Lagipula, dia cuma satu dari 'buanyaaak' kasus
Saya beri contoh eksak aja deh. Ini contoh foto data klinis usus besar
dari mereka yang menjadikan protein hewani sebagai menu utama
Ngambilnya dari data Dr. Hiromi Shinya, gastroenterolog kelas dunia,
kalau gak bisa dibilang yang terbaik! 370.000 manusia 5 dekade praktek
Yang atas usus besar orang sehat, yang dibawah ya gitu deh..
Karnivora! http://t.co/BbjLktEdQD
Yang usus besar sehat, makannya apa? Gak sampe 10-15% protein hewaninya
dalam menu harian, mingguan atau bulanan. http://t.co/BbjLktEdQD
To make things worst, temen saya ini punya hobi baru mengikuti tren saat
ini, "(mendadak) atlet lari jarak jauh". Kok jadi lebih buruk?
Kalau larinya sekedar memenuhi kaidah latihan kardiovaskular, melatih
koordinasi kerja paru dan jantung, sih gak papa. Malah bagus
Tapi konsep kardiovaskular itu cuma butuh waktu 30-60 menit aktivitas
fisik, lari misal, agar kerja jantung paru stabil di level tertentu
Kalau larinya mendadak atlet? Kayak yang lagi tren sekarang? Tiap minggu
ikutan lomba? Ya sebelum saya bilang jelek atau buruk, liat ini ya
Lihat gak beda gambar ini? Antara apel cantik dan apel buruk rupa. Tau bedanya dimana?
Ini yang namannya oksidasi http://t.co/X0LcZidMWT
Perusakan yang dilakukan oleh oksigen. Yang kiri saat apel baru dibelah dalam keadaan segar, satunya pasca didiamkan
http://t.co/X0LcZidMWT
Oksigen merusak? Ya itulah siklus alam. Kita sebagai mahluk hidup
dihidupi oleh oksigen, tapi di sisi lain, oksigen juga 'menghabisi' kita
Oksigen 'menghabisi' sel. Membuatnya rusak. Ini yang biasa kita sebut
dengan istilah 'radikal bebas'. Saat normal, ini hal biasa saja
Siklus ini yang membuat tubuh bisa membuang sel yang sudah usang untuk
diganti sel baru. Di sekitar juga gitu, besi berkarat, kayu lapuk dll
Kalau gak ada siklus ini mungkin sampah dari jaman Nabi Adam sampe sekarang masih betebaran dimana-mana. Bumi penuh sesak!
Nah problemnya muncul, saat siklus ini berada diatas ambang normal. Apa
yang terjadi? Yak, sel tubuh kita yang sehat pun ikutan terganggu
Tubuh sebenarnya punya penanggulangan untuk itu, dia membuat enzym
superoxide dismutase, tapi ini langkah darurat. Boroskan cadangan enzim
Saat berolahraga diluar ambang batas kemampuan tubuh, ya masalah terjadi
bertubi, sel tubuh rusak lebih banyak, SOD boroskan cadangan enzim
Apa yang terjadi saat sel tubuh terganggu berlebihan? Kanker? Salah satunya. Gak cuma itu. Semua struktur dan sistem tubuh rusak
Menua lebih cepat, kerusakan anatomis-fisiologis, gangguang psikologis,
beragam penyakit degeneratif datang dan segudang masalah lain
Makanya bodoh luar biasa orang yang mengatakan, "Kan saya sudah
olahraga, boleh makan apa saja, sudah diimbangi". Yeah right! Balance my
a*s
Saya mah gak usah ngomong banyak. Apa yang terjadi dengan teman saya itu salah satu buktinya. Foto data klinis Dr. Shinya juga
Sila berasumsi, "kata si dokter anu gini" atau "kata pelatih fitnes saya
juga gini". Gih sana! Mereka pernah observasi usus besar belum?
Mereka melihatnya jangka panjang gak? Kalau cuma langsing, berotot,
sebulan dua bulan atau setahun dua tahun sih jangan sombong dulu!
Demikian kibulan ini. Suka sukur gak suka unfollow. Gak follow bawel?
Pilih jadi karnivora? Coba safari ke Afrika, saingan sama cheetah deh
Tulisan ini saya buat sehari setelah peringatan HANI 2015, dan sudah saya posting di grup Food Combining Indonesia.
Karna kemaren ada bilang rokok tidak "berbahaya", saya jadi ingin memuat tulisan ini di blog juga.
Baru ingat kemaren adalah Hari Anti NAPZA Internasional (HANI), jadi
kepengen posting thread terkait tapi lebih spesifik bicara tentang
"Rokok"
NAPZA = Narkotika, Alkohol, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya. Zat
kimiawi yang dimasukkan ke tubuh manusia. Kata lain yang sering dipakai
adalah Narkoba (Narkotika, Psikotropika dan Bahan-bahan berbahaya
lainnya).
"Merokok adalah menghisap narkoba," jelas dr Hakim Sorimuda Pohan, SpOG
dari Komisi Nasional Pengendalian Tembakau saat ditemui dalam acara
Seminar IDI dengan tema 'Gangguan Kesehatan dan Pembiayaan Penyakit
Terkait Rokok, Tanggung Jawab Siapa?' di Hotel Manhattan Jl Prof. Dr.
Satrio Casablanca, Kuningan, Jakarta, Kamis (31/10/2013).
Menurut dr Hakim, narkoba merupakan nama kelompok besar atau familia,
yang genusnya adalah narkotika, psikotropika dan bahan adiktif. Rokok
adalah zat yang sangat adiktif, bahkan tingkat kecanduannya mengalahkan
morfin, heroin dan marijuana alias ganja.
Dalam kesempatan berbeda, dr Hakim menjelaskan bahwa ada 6 tingkatan zat
adiksi (kecanduan) berdasarkan ilmu kedokteran, yaitu adiksi kopi yang
merupakan adiksi paling ringan, adiksi marijuana atau ganja, adiksi
alkohol, adiksi heroin, adiksi morfin dan adiksi nikotin.
Hal ini sering tidak disadari masyarakat karena banyak yang menyangka
adiksi rokok adalah adiksi yang paling ringan, padahal justru nikotin
adalah raja dari raja zat yang bikin candu. Maka tak heran bila banyak
perokok yang sangat berat untuk dapat berhenti merokok.
Bila dibandingkan dengan narkotika dan psikotropika yang juga membuat
candu, nikotin adalah satu-satunya zat adiktif yang tetap berbahaya
walaupun digunakan dengan cara pemakaian yang benar.
"Kalau narkotik digunakan dengan cara yang benar, maka bisa dipakai
untuk menghilangkan rasa sakit misal saat orang akan operasi.
Psikotropik juga demikian, bisa meredakan orang gangguang jiwa yang
ngamuk-ngamuk. Tapi kalau nikotin, walaupun digunakan dengan cara yang
benar, dibakar ujungnya yang diluar mulut bukan di dalam, lalu dihisap,
itu kan sudah cara pemakaian yang benar, tapi tetap berbahaya," jelas dr
Hakim.
Dr Hakim menjelaskan di Indonesia kematian akibat rokok angkanya
mencapai 239 ribu per tahun. Ini lebih besar dibandingkan kematian ibu
akibat kehamilan, persalinan dan nifas, yang sekarang menjadi perhatian
pemerintah dan dunia.
Sedih mendengar cerita salah satu aktivis kampanye anti rokok yang
meninggal. Di bagian cerita terselip kalimat yang sangat tidak cerdas
"Merokok mati, tidak merokok mati, ya lebih baik merokok sampai mati"
Menghela nafas sambil merasa kesal mendengar kalimat satu ini
Gak ada yang baru dengan kalimat tadi dengan apa yang sudah berulang kali saya sampaikan, semua sama secara garis besar
Jarang sekali, garis bawahi ini, orang meninggal mendadak karena sakit!
Mayoritas sakit mampus perlahan, menderita, menyusahkan sekitar
Penyakit karena gaya hidup, mau penyakit degeneratif, penurunan fungsi,
atau kerusakan yang struktural seperti kanker, deritanya panjang
Kalau biasanya saya bicara dari sisi pola makan-minum, sekarang saya
bicara dari hal yang paling malas dibicarakan sebenarnya, rokok
Ngerokok rutin, sih sama saja seperti bunuh diri pelan-pelan. Gak usah
dibahas dan gak usah dicari kompensasinya. Sama aja menggarami lautan
Hampir semua orang tahu, rokok mengandung: Nikotin, Tar, Karbon
Monoksida, 3 unsur yang sangat berbahaya bagi tubuh. Itu saja? Tentu
tidak
Di US pernah dikeluarkan izin unsur pembentuk rokok yang berisi 500-an
nama. Dianggap aman? Gak juga. Unsur itu tidak dalam keadaan dibakar
Yang diketahui mayoritas unsur tadi dalam keadaan dipanaskan miliki efek
buruk bagi kesehatan. Bahkan ada yang jadi unsur pembentuk senjata
Kerusakan akumulatif ditimbulkan rokok bisa dibilang ada dari ujung
kepala hingga ujung kaki. Dari mulai rambut rontok hingga kanker kulit
Dari sekedar batuk-batuk sampai hak bersuara dicabut. Arti harfiah!
Karena pita suaranya diambil. Dari mata kabur akibat asap, hingga buta
Dari kulit gatal-gatal sampai jadi kanker kulit. Lengkaplah pokoknya. Dan biasanya, mayoritas perokok tidak peduli makan sehat
Ngerokok yang bahaya itu aja dikerjain, apalagi cuma sekedar menghindari makanan yang buruk bagi kesehatan?
Memang ada sih segelintir perokok yang bisa hidup panjang dan meninggal
di usia lanjut walau tergolong perokok berat. Tapi berapa persen?
Saya pernah kultwit tentang Winston Churcill, perokok berat yang
meninggal di usia 90 tahun. Banyak perokok menjadikan beliau acuan
Tapi mereka gak tahu dan pasti ogah tahu bagaimana kondisi Churchill
saat meninggal. Dia mengalami kemunduran mental parah juga alzheimer
Dia pun berulang kali diserang stroke. Praktis beberapa tahun terakhir
hidupnya Churchill hidup dengan sangat menderita. Tua tapi sengsara
Umur di tangan Tuhan, tapi kualitas hidup ada di tangan kita. Sehat
adalah elemen utama kualitas hidup. Merokok jelas merampas elemen itu
Demikian kibulan ini suka sukur gak suka unfollow. Gak follow bawel?
Suka ngerokok? Coba nyalain rokok di buntutnya pesawat jet mau terbang
Mari hidup sehat dan ini sejalan dengan tema peringatan HANI 2015 :
Let's Develop Our Lives, Our Communities, Our Identities, Without Drug.